Memenangan Pemilih Milenial 2019

Memenangan Pemilih Milenial 2019

Tulisan ini ditujukan untuk para calon legislatif yang melihat jumlah pemiih milenial sebagai pemilih aktif.  Pemilih yang peduli pada pertumbuhah demokrasi yang sehat dan mengutungkan. Kesempatan dan pemahaman ringkas ini, sediit memberikan pandangan bagaimana membangun strategi kampanye digital yang relevan. Dan mendorong generasi milenial pada wilyah basis anda. Melirik anda sebagai calon politisi yang mewakili generasi mereka dan kepentingan mereka.

Produk Spesial
timses pileg 2019

33% penduduk Indonesia tahun 2015 berusia 15 – 34 tahun

Lebih dari 33% penduduk Indonesia tahun 2015 adalah penduduk muda yang berusia 15 – 34 tahun. Bahkan untuk daerah perkotaaan seperti DKI Jakarta penduduk mudanya bisa mencapai lebih dari 40%.Mereka inilah yang kemudian dikenal sebagai generasi millennial. Siapa Generasi Millenial?. Setelah perang dunia ke 2, kelompok demografis(cohort) dibedakan menjadi 4 generasi yaitu generasi baby boomer, generasi X (Gen-Xer), generasi millennials dan generasi Z.

Generasi baby boomer adalah generasi yang lahir setelah perang dunia kedua (saat iniberusia 51 hingga 70 tahun). Disebut generasi baby boomer karena di era tersebut kelahiran bayi sangat tinggi. Generasi X adalah generasi yang lahir pada tahun 1965 hingga 1980 (saat ini berusia 35 hingga 50 tahun). Generasi millennials adalah generasi yang lahir antara tahun 1981-2000. Atau yang saat ini berusia 15 tahun hingga 34 tahun. Generasi Millennials ( juga dikenal sebagai Generasi Millenial atau Generasi Y ) adalah kelompok demografis setelah Generasi X. Sedangkan generasi Z merupakan generasi yang lahir setelah tahun 2000 hingga saat ini. ( (Alvara Research Center pada 2016).

Di tahun 2020 generasi millennial berada pada rentang usia 20 tahun hingga 40 tahun. Usia tersebut adalah usia produktif yang akan menjadi tulang punggung perekenomian Indonesia. Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah penduduk Indonesia usia 20 tahun hingga 40 . Tahun di tahun 2020 diduga berjumlah 83 juta jiwa atau 34 % dari total penduduk Indonesia yang mencapai 271 juta jiwa. Proporsi tersebut lebih besar dari proporsi generasi X yang sebesar 53 juta jiwa (20 %) maupun generasi baby boomer yang hanya tinggal 35 juta jiwa (13 %) saja.

Pendekatan Politik Agama Yang Tidak Lagi Efektif

Seperti yang telah disampaikan pada pendahuluam sebelumnya. salah satu ciri dari masyarakat urban adalah lebih cenderung pada pendidikan umum. Apalagi masyarakat kelas menengah. Meskipun sekarang banyak bermunculan sekolah terpadu. Yang memadukan pendidikan umum dan agama,tetap saja jumlahnya masih cukup kecil. Masih kalah jauh dengan jumlah sekolah umum. Keadaan tersebut tentu akan berimplikasi bagi masa depan kehidupan keberagamaan mereka dan keberagamaan di Indonesia pada umumnya. Hampir 90 % penduduk Indonesia beragama islam.

Sehingga masa depan keberagamaan di Indonesia ditentukan oleh wajah keberagamaan umat islam. Hasil riset Alvara Research Center pada riset keberagamaan muslim kota tahun 2015, menemukan bahwa sebagian besar masyarakat muslim kota (57.3%). Adalah masyarakat islam kultural dengan pemikiran moderat, namun jumlah tersebut bisa tereduksi lagi ditahun-tahun mendatang. Masyarakat Islam kultural lebih suka melakukan ritual keagamaan secara komunal. Misalnya dengan tahlil bersama, memperingati maulid nabi bersama, pengajian bersama, zikir bersama setelah sholat berjamaah dll.

Dari Kyai ke Internet. Sejak dulu Kyai adalah rujukan utama dalam kehidupan keagamaan umat Islam. Dengan munculnya internet dan sosial media bukan tidak mungkin kedepan referensi ilmu keagamaan. Menempatkan internet sebagai rujukan mulai bertambah porsinya. Dengan internet referensi ilmu keagamaan menjadi lebih terbuka. Tentunya masyarakat urban middle-class millennials yang memiliki pemikiran terbuka dan rasional akan menjadikan internet sebagai alternative sumber ilmu. Kedepan perdepatan pemikiran keagamaan dan keabsahan ritual keagamaan akan makin dinamis. Akankah wajah islam akan tetap teduh atau berubah wajah menjadi garang. Sedikit banyak dipengaruhi oleh kesantunan perdebatan masyarakat urban middleclass millennials. Sebagai generasi yang melek internet dan paling aktif di sosial media.(Alvara Research Center 2016)

Membaca kutipan diatas, dapat ditarik sedikit indikasi bahwa. Cara-cara lama menggunakan agama sebagai alat pemenangan akan cukup sulit dipertanggunjawabkan metodenya. Sehingga kekuatan utama dari proses pemenangan. Adalah penggunaan metode digital sebagai tool dan konten. Jika anda membutuhkan tim atau nasehat yang bertujuan pada branding diri atau perusahaan. Anda bisa menghubungi tim setara media atau langsung ke mitra kami Visi Media Tara.

 

Leave a Comment